Rabu, 28 Mei 2014

قصص وعبر

وقف الابن أمامها وسلمها ورقـة أعدها مسبقـاً بعد أن جففت الأم يدها وأمسكت بالورقة وقرأت المكتوب :

* سعر تنظيـف غرفتـي لهـذا الأسبوع
= 70 دينار
* سعر ذهابي للسوق مكانك
=20 دينار
* سعر اللعب مع أخـي الصغير
= 20دينار
* سعر مساعدتي لكِ في تنظيـف البيت
= 20دينار
* سعر حصُولـي على علامـات ممتازة في المدرسة = 70 دينار
المجموع = 200دينار ..
" واعطوا ألأجير أجرهـ قبـل أن يجف عرٍقـه "
نظـرت الأم إلى ابنها الواقف بجـانبها , ابتسمت بحنـان والتقطت قلمـاً و قلبت الورقة وكتـبت :
* سعر تسعة أشهر حملتك بها في أحشائي = بلا مقابل
* سعر الحليب الكامل الذي أرضعتك إياه عشرون شهـراً = بلا مقابل
* سعر تغيير ملابسك وتنظيفك لست سنـوات = بلا مقابل
* سعر كل الليالي التي سهرتها بجانبك في مرضك ومن آجل تطبيبك = بلا مقابل
* سعر كل التعب والدموع التي سببتها لي طوال السنين = بلا مقابل
* سعر كل الليالي التي شعـرت بها بالفزع لأجلك وللقلق الذي انتابني = بلا مقابل
* سعر كـل الألعاب والطعـام والملابس إلى اليوم = بلا مقابل
يا ابني : حيـن تجمع كـل هذا فإن سعر حبـي لـك بلا مقابل ..
حين انتهى الابن مما كتبته أمـه أغرقت عينـاه بالدموع : ونظـر لأمـه و قال :
" أمـي سامحيني أحبك كثيرا "
ثـم أخـذ القلم وكتب بخط كبيـر ..
" دين لا يمكن ردهـ"
كـن معطاء ولا تكن متطـلبا ..
خصوصا مع أبويك فهناك الكثير لتعطيه لهما غيـر المال .
النصيحة :
إذا كانت أمك على قيـد الحياة وقـريبة منـك .. فقبـل رأسها واطلب منها أن تسامحك .. وإذا كانت بعيدة عنـك أتصل بها .. وإذا متوفية فادع الله لها بالرحمة والمغفرة ...
إذا أعجبتك الرسالة فادعُ لوالديك فقل : اللهم اغفر للمرسل ولوالديه .
اللهم اغفر لي ولوالدي ولمن قرأها ووالديه والمسلمين اجمعين .
اللهم آمييين

قصص و عبر

اقرؤوها بتمعن :


رجل فقير يرعى أمه و زوجته و ذريته ، وكان يعمل خادماً لدى أحدهم ، مخلصاً في عمله ويؤديه على أكمل وجه ، إلا أنه ذات يوم تغيب عن العمل ..
فقال سيده في نفسه :
" لابد أن أعطيه ديناراً زيادة حتى لا يتغيب عن العمل”
فبالتأكيد لم يغيب إلا طمعاً في زيادة راتبه لانه يعلم بحاجتى إليه
" وبالفعل حين حضر ثاني يوم أعطاه راتبه و زاد عليه الدينار ..
لم يتكلم العامل و لم يسأل سيده ..
عن سبب الزيادة ، وبعد فترة غاب العامل مرة أخرى ،
فغضب سيده غضباً شديداً وقال :
" سأنقص الدينار الذي زدته. "
و أنقصه .. و لم يتكلم العامل و لم يسأله عن نقصان راتبه..
فإستغرب الرجل مِنْ ردة فعل الخادم ، وسأله :
زدتك فلم تسأل ، و أنقصتك فلم تتكلم !!!!!!!
فقال العامل : عندما غبت المرة الأولى رزقني الله مولوداً ..
فحين كافأتني بالزيادة ، قلت هذا رزق مولودي قد جاء معه ،
وحين غبت المرة الثانية ماتت أمي ، وعندما أنقصت الدينار
قلت هذا رزقها قد ذهب بذهابها .
ما أجملها مِنْ أرواح تقنع و ترضى بما وهبها إياه الرحمن ،
وتترفع عن نسب ما يأتيها مِنْ زيادة في الرزق أو نقصان إلى الإنسان .

قصص وعبر



حكي أنه كان هناك ولد صغير يزور بيت جدته في مزرعتها
خرج ليتعلم التصويب على الأهدا...ف فكان يلعب ويتدرب على الأخشاب
ولكنه لم يستطع أن يصيب أي هدف حزن الولد وتوجه إلى بيته للعشاء
...
وهو بطريقه إلى المنزل وجد بطة جدته المدللة.
وهكذا من باب الفضول أو الأمنية صوب عليها
فأصابها في رأسها فماتت وقد صدم الولد وحزن لأنه قتل بطة جدته
وبلحظة رعب، أخفى البطة بين الأحراش
لكنه فوجئ بأن أخته حبيبة رأت كل شيء لكنها لم تتكلم بكلمة
بعد الغذاء في اليوم الثاني،
قالت الجدة:هيا يا حبيبة لنغسل الصحون
ولكن حبيبة ردت: "جدتي، ابراهيم قال لي أنه يريد أن يساعد بالمطبخ".ـ
ثم همست بإذنه : أتتذكر البطة؟؟؟
وفي نفس اليوم،سأل الجد إن كان يحب الأولاد أن يذهبوا معه للصيد،
ولكن الجدة قالت: أنا آسفة، ولكنني أريد من حبيبة أن تساعدني في تحضير العشاء
فابتسمت حبيبة وقالت: لا مشكلة..
لأن ابراهيم قال لي أنه يريد أن يساعد هو الجدة في تجهيز العشاء
وهمست بإذنه مرة ثانية: أتتذكر البطة؟؟؟؟
وذهبت حبيبة إلى الصيد وبقي ابراهيم للمساعدة
بعد بضعة أيام كان ابراهيم يعمل واجبه وواجب أخته وهكذا........ـ
لم يستطع الولد الاحتمال أكثر،
فذهب إلى جدته واعترف لها بأنه قتل بطتها المفضلة
جثت الجدة على ركبتيها، وعانقته
ثم قالت:حبيبي، أعلم، فقد كنت أقف بالشباك ورأيت كل شي
ولكنني لأني أحبك ولأنك اعترفت بخطئك فقد سامحتك
وكنت فقط أريد أن أعلم إلى متى ستحتمل أن تكون عبدا لحبيبة؟
.
.
.
.
ولله المثل الاعلى
أخي الكريم .. اختي الكريمة
مهما فعلت من ذنوب فلا تترك نفسك عبدا للشيطان مهما كان
يجب أن تعلم أن الله تعالى موجود رآك ويعلم أفعالك كلها ويريدك أن تتأكد أنه يحبك وأنه يسامحك إن استغفرته
فلا تجعلن معصية تأسرك وسارع بالإستغفار والتوبة

Jumat, 23 Mei 2014

ASASIN (3) end

KATA yang menjadi asal usul kata ‘Assassin’, yaitu kata ‘al-Hasyiyiyah’ sebenarnya muncul belakangan di wilayah Suriah.
Kata ini berasal dari kata ‘hasyisy’ yang merujuk pada sejenis narkotika yang terdapat di wilayah Suriah. Digunakannya kata ini membuat sebagian orang percaya bahwa para pemimpin Assassin menggunakan obat-obatan terlarang untuk memberikan efek surgawi kepada para pengikutnya, sehingga mereka berani melakukan aksi bunuh diri.
Namun mungkin juga kata ini digunakan sebagai kiasan untuk menunjukkan penyimpangan kaum Assassin serta tindakan mereka yang menjijikkan, bukan mengacu pada penggunaan obat-obatan terlarang yang sesungguhnya.
Beberapa kisah menceritakan metode yang digunakan oleh para pemimpin Assassin untuk membangun ketaatan para pengikutnya sehingga mereka siap untuk mati.Dikatakan bahwa para calon pembunuh ini telah diambil dari desa-desa di sekitar benteng Assassin dan diasuh sejak kecil dengan doktrin-doktrin yang dikembangkan oleh para pemimpin Assassin.
Mereka tumbuh dalam ketaatan penuh pada pemimpinnya.Menjelang diberikannya misi pembunuhan, mereka diundang secara khusus dan diberi minuman yang membuat mereka tertidur.Kemudian tubuh mereka dipindahkan ke sebuah tempat khusus yang telah disiapkan.Tempat itu berisi berbagai kenikmatan, termasuk perempuan-perempuan penyanyi yang mempesona, sehingga mereka merasa sedang berada di dalam surga.Akhirnya mereka kembali diberi minuman yang membuat mereka tertidur dan tubuh mereka dipindahkan lagi ke tempat semula.
Pengalaman itu menjadikan mereka sangat bersemangat untuk menjalankan misi yang diberikan, sehingga mereka mati dalam menjalankan misi tersebut.
Terlepas dari kisah di atas, para fida’i Assassin memang mentaati Tuan (Master) mereka sepenuhnya, bahkan jika mereka diperintahkan untuk membunuh diri mereka sendiri.Seolah-olah mereka menyerahkan jiwa mereka sepenuhnya kepada pemimpin mereka.
Kemampuan pemimpin Assassin, yang di wilayah Suriah dikenal sebagai Orangtua (Syaikh/ Old Man), di dalam membangun ketaatan ini menjadi kiasan di kalangan para penulis dan penyair Eropa.
“Kau menggenggamku lebih kuat,” kata seorang penyair Eropa kepada gadis pujaannya,”ketimbang sang Orangtua menggenggam para Assassin yang pergi untuk membunuh musuh-musuh­nya.” Cuplikan syair di atas dapat ditemukan dalam buku Bernard Lewis, “Assassin”.
Ibnu Katsir dalam “Bidayah wa Nihayah” menyebutkan bahwa saat Hasan al-Sabbah mulai menjadi ancaman di wilayah Iran, Sultan Maliksyah mengirim tentara dan utusan kepadanya dengan membawa surat berisi ancaman agar ia menghentikan aksi-aksi pembunuhannya.
Saat membaca surat itu di hadapan utusan Maliksyah, Hasan memberi isyarat kepada para pemuda di sekitarnya. Ia kemudian memerintahkan seorang pemuda untuk membunuh dirinya sendiri. Pemuda itu pun langsung mengeluarkan sebilah belati dan menusuk bagian bawah dagunya sendiri hingga mati.Lalu Hasan memerintahkan seorang pemuda lainnya untuk menjatuhkan dirinya dari sebuah tempat yang tinggi. Hal itu segera dilaksanakan sehingga ia jatuh dan mati. Kemudian Hasan berkata kepada utusan Sultan, “Inilah jawabannya (dari surat itu, pen.).” Maka Sultan Maliksyah pun menahan diri dari memerangi Hasan al-Sabbah.
Menariknya, kita juga menemukan kisah yang mirip di buku yang ditulis oleh penulis Frank sejaman pada masa Perang Salib III yang dihimpun oleh Peter W. Edbury dalam “The Conquest of Jerusalem and the Third Crusade”.
Hanya saja kisah ini terjadi sekitar satu abad kemudian di wilayah Suriah.Ketika itu pemimpin Assassin di Suriah ingin membangun kembali hubungan mereka dengan orang-orang Frank dan mengundang raja mereka, Henry II of Champagne (w. 1197), ke kastil Assassin.
Saat berada di tempat itu, pemimpin Assassin mendemonstrasikan ketaatan anak buahnya yang satu demi satu diperintahkan untuk membunuh diri mereka sendiri.Henry tampaknya sangat terkejut dengan aksi itu dan meminta agar hal itu dihentikan.
Walaupun berhasil membangun sebuah organisasi teror yang menakutkan banyak orang pada masa itu, keseharian Hasan al-Sabbah jauh dari kesan brutal.Ia merupakan seorang yang ketat dalam menjalankan keyakinannya. Ia tidak pernah keluar dari benteng Alamut sejak ia memasukinya pada tahun 1090 sehingga ia wafat pada tahun 1124 dan dikuburkan di tempat yang sama.
Aktivitasnya dihabiskan dengan membaca, menulis, dan mengendalikan organisasi yang dibangunnya.Ia membangun sebuah perpustakaan di dalam benteng Alamut yang koleksi bukunya kelak membuat takjub banyak orang.

ASASIN (2)

Orang pertama yang menjadi sasaran pembunuhan kaum Assassin adalah Nizam al-Muluk (w. 1092). Ia merupakan wazir paling penting Dinasti Saljuk, sekaligus salah satu tokoh utama kebangkitan kembali Ahlu Sunnah pada masa itu, selain Abu Hamid al-Ghazali (w. 1111) dari kalangan ulama. Nizam al-Muluk dibunuh saat melakukan perjalanan haji pada tahun 1092.
Ketika ia tiba di daerah Nahawand, seorang pemuda Dailam yang menyusup ke rombongannya dengan mengenakan pakaian Sufi meminta izin untuk mendekat kepadanya. Saat ia diberi izin dan mendekat kepada Nizam al-Muluk, ia langsung mengeluarkan belati dan menikam sang wazir tepat di jantungnya. Nizam al-Muluk wafat tak lama kemudian.
Pemuda Dailam yang merupakan pengikut Hasan al-Sabbah itu berhasil ditangkap dan dihukum mati.Namun perbuatannya itu tidak hanya mengakhiri hidup satu orang, tetapi memberi dampak serius pada Dinasti Saljuk secara keseluruhan, karena Nizam al-Muluk adalah arsitek sesungguhnya dari Dinasti tersebut.
Beberapa waktu kemudian, masih pada tahun yang sama, Sultan Turki Saljuk, Maliksyah, meninggal dunia. Setelah itu, Dinasti Saljuk mengalami perpecahan dan kemunduran, dan tidak pernah bangkit kembali setelahnya.
Dengan melemahnya Dinasti Saljuk, maka kaum Assassin menjadi lebih leluasa dalam menyebarkan pengaruhnya di wilayah-wilayah Sunni. Pecah dan melemahnya Dinasti Saljuk juga menjadi faktor utama yang mendorong terjadinya Perang Salib I, karena Byzantium melihat peluang di balik perpecahan itu dan ia mengajak orang-orang Frank (Eropa Barat) untuk melakukan serangan ke Asia Minor dan Suriah. Saat pasukan salib masuk dan menetap di wilayah Suriah dan Palestina nantinya kita akan menemukan kaum Assassin dalam banyak kesempatan menjalin hubungan persahabatan dengan orang-orang Frank. Karena musuh utama mereka adalah Ahlu Sunnah, bukan orang-orang Kristen Eropa.
Menjelang atau bertepatan dengan masuknya pasukan salib ke Asia Minor dan Suriah itu pula terjadi perpecahan di dunia Syiah Ismailiyah. Khalifah Fatimiyah, al-Mustansir, wafat pada tahun 1094. Nizar yang merupakan putera mahkota digulingkan dari kekuasaan oleh wazir al-Afdal. Adik Nizar, al-Musta’li, diangkat oleh al-Afdal sebagai khalifah yang baru. Nizar menolak menerima hal itu, tetapi akhirnya ia mati dibunuh.
Banyak kalangan Ismailiyah di luar Mesir tidak bisa menerima hal itu, terutama yang berada di kawasan Iran dan sekitarnya.Bagi mereka, Nizar merupakan putra mahkota yang sah. Hal ini juga sejalan dengan doktrin Ismailiyah yang menetapkan anak pertama dari imam sebelumnya sebagai imam penerus, sebagaimana penetapan mereka atas Ismail sebagai imam Syiah ketujuh yang sah, dan bukan Musa al-Kadzim, karena Ismail merupakan anak tertua Ja’far Shadiq.
Mereka yang mendukung Nizar selanjutnya disebut sebagai Nizari, dan Hasan al-Sabbah merupakan pendukung terkuatnya.Sejak itu mulai berkembang ide tentang ghaibnya Imam Nizar di kalangan Nizari, atau dikatakan bahwa keturunannya telah melarikan diri dari Kairo dan berlindung di benteng Alamut sebagaimana yang diklaim pihak al-Sabbah.Pada intinya, para pendukung Nizar kini berseberangan dan bermusuhan dengan pusat kekuasaan Fatimiyah di Mesir.Dengan begitu, Alamut dan kastil-kastil pendukungnya menjadi sentral pemerintahan Ismailiyah (Nizari) yang bergerak secara independen, terpisah dari pemerintahan Kairo.
Teror kaum Sunni
Sejak keberhasilannya dalam membunuh Nizam al-Muluk, kaum Assassin menggunakan metode yang sama untuk meneror para pemimpin Sunni. Beberapa pemimpin di dunia Sunni menjadi korban pembunuhan kaum Assassin di sepanjang abad ke-12.Kaum Assassin menyamar dan menyusup ke tempat yang biasa diakses calon korbannya.Kadang mereka mampu menyusup dan menjadi orang-orang kepercayaan di lingkaran terdekat si calon korban, dan siap menerima instruksi dari Tuan mereka untuk melakukan eksekusi.
Mereka menyamar sebagai tentara, sebagai pelayan, sebagai pedagang, atau sebagai seorang Sufi yang berpakaian sederhana.
Ketika saatnya tiba, mereka melakukan serangan mematikan tanpa diduga. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Amin Maalouf dalam bukunya “The Crusades through Arab Eyes“, walaupun persiapannya selalu dijalankan dengan tingkat kerahasiaan yang tinggi, eksekusinya dilaksanakan di tempat terbuka, bahkan di depan kerumunan yang besar. Itulah sebabnya mengapa lokasi (pembunuhan) yang disukai adalah masjid, hari favoritnya adalah Jum’at, dan pada umumnya (dilakukan) pada tengah hari.”
Pada masa-masa berikutnya, “Semua pemimpin Muslim Sunni belajar untuk takut kepada mereka, demikian pula dengan kaum Salib (Crusaders) tak lama setelahnya …,” tulis Michael Paine dalam The Crusades. “Rasa takut terhadap serangan mendadak yang tak diduga di tengah kerumunan pasar atau di lapangan meningkat hingga ke level paranoia di kalangan sebagian pemimpin.”
Aksi-aksi kaum Assassin (Batiniyah) memakan banyak korban, bukan hanya para emir Muslim, tapi juga para ulama.Bahkan Khalifah Fatimiyah, al-Amir Bi-Ahkamillah (w. 1130), dan Khalifah Abbasiyah, al-Mustarsyid (w. 1135), termasuk yang menjadi korban pembunuhan Assassin.Begitu banyak kasus pembunuhan, “sehingga memaksa beberapa pejabat memakai baju pengaman dari besi yang dipasang di balik baju,” tulis al-Suyuthi dalam Tarikh Khulafa’.Mereka mengenakan baju besi itu pada hari-hari yang biasa, di luar masa-masa peperangan.
Belakangan, pemimpin Frank pun ada yang menjadi korban pembunuhan kelompok ini, di antaranya yang terkenal adalah Conrad of Montferrat (w. 1192) yang dibunuh pada akhir masa Perang Salib III.
“Keyakinan dan metode mereka (Assassin, pen.) menjadikan mereka buah bibir dalam hal fanatisme dan terorisme di Suriah dan Persia pada abad ke-11 dan 12, dan menjadi subyek mitos dan legenda yang tumbuh dengan subur,” tulis Philippus Laurentinus, seorang Grand Master Elder Brethren Rose and Cross, dalam Baphomet Veneration among the Crusaders.
Sementara sebagian pemimpin merasa khawatir dengan ancaman pembunuhan Assassin, sebagian lainnya justru menjalin hubungan secara diam-diam dan memanfaatkan jasa dan keterampilan mereka yang unik.
Kaum Assassin sendiri belakangan bersedia melakukan aksi pembunuhan yang diminta oleh pihak lain dengan menerima bayaran tertentu. Karakteristik inilah yang menemukan jalannya ke Eropa menjadi sebuah kosa kata yang khas untuk menggambarkan perilaku yang sama. Assassin dalam bahasa Inggris yang digunakan sekarang ini kurang lebih bermakna “seseorang yang membunuh orang lainnya, biasanya orang penting atau terkenal, untuk alasan politik atau uang.”
Kata Assassin sendiri sebenarnya tidak begitu populer di tengah masyarakat Muslim Timur Tengah ketika itu.Mereka biasanya menyebut kelompok ini, dan kalangan Ismailiyah pada umumnya, dengan sebutan Batiniyah.Hal ini disebabkan, sebagaimana dijelaskan oleh Ali M. Sallabi  dalam bukuSalah ad-Deen al-Ayubi, mereka meyakini bahwa untuk setiap yang tampak (zahir) terdapat manifestasi yang tersembunyi (batin) dan bagi setiap wahyu ada interpretasinya (yang bersifat batin atau esoteris, pen.). Selain itu, mereka juga cenderung menyembunyikan dakwah dan keyakinan mereka saat berada di tengah komunitas Ahlu Sunnah.

ASASIN (1)

JIKA anak-anak muda pada hari ini ditanya apa yang mereka ketahui tentang Assassin, mungkin mereka serentak akan menjawab bahwa itu adalah nama sebuah game online. Jika pengetahuannya hanya berhenti sampai di situ, tentu sayang sekali.Karena Assassin sebenarnya bukan sebuah cerita atau permainan fiktif. Ia adalah sebuah sekte keagamaan cukup besaryang  pernah muncul dalam sejarah. Kumpulan ini memang lahir di dunia Islam, tetapi juga memberi kesan yang kuat di dalam imajinasi Barat, sayangnya tidak dalam pengertian yang positif.
Kelompok Assassin merupakan sebuah sekte pecahan Syiah Ismailiyah. Ia didirikan oleh Hasan al-Sabbah, seorang keturunan Yaman yang lahir dan menghabiskan sebagian besar masa hidupnya di wilayah Iran. Kajian tentang Assassin tak akan lengkap tanpa membahas sosok yang satu ini.
Hasan al-Sabbah lahir pada pertengahan abad ke-11 di kota Qum, Iran.Iakemudian mengikuti orangtuanya pindah ke kota Rayy (Teheran).  Mengikut keyakinan keluarganya, Hasan menganut faham Syiah Itsna Asy’ariyah (Dua Belas Imam).Dalam cuplikan biografinya, sebagaimana dikutip oleh Bernard Lewis dalam bukunya Assassin, Hasan menulis bahwa, “sejak berusia tujuh tahun, aku sudah jatuh hati pada kepada pelbagai cabang ilmu pengetahuan dan bercita-cita menjadi ulama.” Hingga sepuluh tahun berikutnya, ia “menjadi pencari dan penuntut ilmu dengan tetap mempertahankan keyakinan Syiah Dua Belas Imam” yang dianut oleh ayahnya.
Keadaan berubah saat ia bertemu seorang dai Ismailiyah bernama Amira Darrab; seorang rafiq (sahabat)mengikutistilahyang digunakan di kalangan Ismailiyah. Hasan pada awalnya menolak pandangan-pandangan Amira Darrab.Namun kepribadiannyayang menarik dan kepandaiannnya berargumen membuat keyakinan Hasan akhirnya goyah. Ia pun berpindah keyakinan kepada Ismailiyah yang pada masa itu memang lebih dominan dibandingkan Itsna Asy’ariyah. Pada pertengahan tahun 1072, Hasan dibaiat oleh pimpinandai Ismailiyah di Persia Barat dan Irak, Abdul Malik bin Attasy.
Sekitar empat tahun kemudian, ia melakukan perjalanan dari Rayy menuju Isfahan. Setelah itu ia ke Kairo, tempat bersemayam Khalifah Fatimiyah, al-Mustansir (w. 1094), sekaligus pusat pemerintahan Ismailiyah ketika itu. Ia tiba di Kairo pada pertengahan tahun 1078. Hasan hanya menetap tiga tahun di kota itu dan juga Aleksandria. Belakangan ia berseteru dengan wazir Badr al-Jamali yang menyebabkan ia terpaksa pergi meninggalkan Mesir dan kembali ke Persia.
Tahun kedatangan Hasan di Kairo, 1078, juga merupakan tahun kematian Mu’ayyad al-Din al-Shirazi, pimpinan misionaris (Da’i al-Du’at) Ismailiyah sekaligus intelektual penting yang membawa falsafah Ismailiyah kepada puncaknya.Kedudukannya digantikan oleh Badr al-Jamali (w. 1094), seorang bekas budak Armenia yang karirnya menanjak cepat di pemerintahan Fatimiyah. Badr al-Jamali juga merupakan wazir dan kepala tentara Fatimiyah. Kuatnya pengaruh Badr al-Jamali serta keturunannya pada masa berikutnya akan menyebabkan posisi Khalifah Fatimiyah mulai tersandera dan kehilangan pengaruh, sebagaimana yang terjadi pada Dinasti Abbasiyah.
Kelak Badr al-Jamali dan anaknya yang meneruskan kedudukannya, al-Afdal,akan menyingkirkan putra mahkota Fatimiyah yang memiliki dukungan luas, Nizar (w. 1095/1097), dan menggantinya dengan putera Khalifah yang lain. Hal itu nantinya akan memicu perpecahan di dunia Ismailiyah, antara pihak yang berkuasa di Kairo dan pihak yang pro-Nizar di mana Hasan al-Sabbah menjadi salah satu pendukung utamanya. Tapi hal ini baru terjadi sekitar dua dekade setelah keberadaan Hasan al-Sabbah di Mesir.
Setelah meninggalkan Mesir, Hasan al-Sabbah kembali ke wilayah Iran dan menyebarkan dakwah Ismailiyah di sana. Pada akhir tahun 1080-an, ia memfokuskan dakwahnya di wilayah Dailam di utara Iran. Masyarakat di wilayah itu tidak puas dengan pemerintahan Abbasiyah dan Saljuk, mayoritasnya menganut Syiah, dan wilayah itu tidak sepenuhnya berada di bawah kendali pemerintah karena lokasinya yang agak jauh dari pusat pemerintahan.
Di wilayah itu, tepatnya di pegunungan Alborz, ada sebuah benteng yang sangat strategis dan sulit dijangkau.Benteng itu dibangun pada masa silam oleh seorang raja Dailam yang menemukan lokasi tersebutketika burung elangnya terbang ke tempat itu saat sedang berburu.Ia pun membangun benteng di sana dan memberinya nama Aluh Amut yang menurut bahasa setempat bermakna ‘Petunjuk Elang’. Nama itu kemudian berubah menjadi Alamut.
Secara bertahap, Hassan menyusupkan orang-orangnya ke dalam benteng Alamut dan menyebarkan pengaruh secara rahasia di dalam benteng. Pada tahun 1090, ia sendiri menyusup dengan menyamar ke dalam benteng. Ketika penguasa benteng itu akhirnya mengetahui apa yang terjadi, keadaannya sudah terlambat, karena pengaruh Hasan al-Sabbah sudah terlalu kuat. Ia terpaksa menerima tawaran Hasan agar menjual benteng itu kepadanya seharga 3000 dinar emas dan pergi meninggalkan benteng itu setelahnya.
Penguasa Saljuk berusaha merebut kembali Alamut setelah benteng itu dikuasai oleh Hasan, tetapi mereka tidak berhasil.Alamut tetap berada di bawah kekuasaan Hasan dan para pengikutnya hingga satu setengah abad berikutnya.
Dikuasainya benteng Alamut oleh Hasan al-Sabbah menandai era baru gerakan Ismailiyah di wilayah Persia, serta “meletakkan dasar bagi sebuah negara baru dan unik, di atas prinsip yang sangat berbeda dengan masyarakat Sunni di sekitarnya,” tulis Marshall Hodgson dalam The Order of Assassin.
Hal ini juga menandai kemunculan sebuah kelompok yang kemudian terkenal dengan penggunaan cara-cara berdarah dalam menghabisi lawan-lawan politiknya.Seperti dikatakan Steven Runciman dalam A History of the Crusades, “Senjata politik utama yang digunakannya (Hasan al-Sabbah, pen.)adalah apa yang dengannya para pengikutnya melahirkan namanya, pembunuhan”.
Ya, para pengikut al-Sabbah memang kelak dikenal, terutama di Barat, sebagai kaum Assassin (Pembunuh).
Di Alamut, Hasan dan para pengikutnya mendirikan sebuah kastil, atau Eagle's Nest, di mana Hassan Sabbah mengambil gelar tradisional yaitu Syekh al-Jabal, atau "Old Man of the Mountain"
Di Alamut, Hasan dan para pengikutnya mendirikan sebuah kastil, atau Eagle’s Nest, di mana Hassan Sabbah mengambil gelar tradisional yaitu Syekh al-Jabal, atau “Old Man of the Mountain”

Sejak menguasai Alamut, Hasan berusaha menguasai benteng-benteng strategis lainnya di kawasan Iran Utara.Hal ini menjadi ciri khas gerakan Assassin pada masa-masa berikutnya, yaitu menguasai kastil-kastil yang sulit dijangkau di kawasan pegunungan yang agak jauh dari pusat-pusat pemerintahan Saljuk.Selain itu, Hasan juga mengembangkan doktrin Ismailiyah yang kemudian dikenal sebagai “dakwah baru” (al-da’wa al-jadida). Menurut Farhad Daftary dalam artikelnya “Hasan Sabbah”, dakwah baru ini sebenarnya merupakan formulasi ulang dari doktrin ta’lim (authoritative instruction) yang sudah mapan di dalam ajaran Ismailiyah.
Hasan mampu membangun otoritas yang kuat di kalangan pengikutnya sehingga dapat dikatakan mereka mentaatinya secara mutlak.Para pengikutnya itu siap mati dalam menjalankan perintah Hasan dan para pemimpin setelahnya.Hasan sendiri disebut oleh para pengikutnya dengan sebutan Sayyidna (our Master).
Hasan melatih sebagian pengikutnya secara khusus untuk melakukan penyamaran, penyusupan, dan pembunuhan.Para pembunuh ini, biasanya disebut fida’i, ditugaskan untuk membunuh tokoh-tokoh penting di kalangan Ahlu Sunnah. Para pembunuh terlatih ini harus siap mati, karena biasanya mereka akan mati dalam menjalankan tugasnya, baik tugas itu berhasil ataupun gagal

Kamis, 22 Mei 2014

Kenakalan Anak: Kenali Sebabnya, Jangan Nafikan

PADA pokoknya, tidak ada anak yang nakal. Kitalah yang salah didik sehingga mereka menjadi nakal. Tak ada anak yang lahir dalam keadaan nakal. Tetapi kita tak boleh menutup mata atau menyangkal bahwa kenakalan itu ada. Sesungguhnya, eufimisme hanya menyulitkan kita menemukan akar masalahnya. Memahami setiap sebab kenakalan akan memudahkan kita menentukan langkah yang tepat sesuai dengan sebab kenakalannya. Langkah terstruktur.
Menyangkal adanya kenakalan dapat membuat kita terkejut. Tiba-tiba saja ada berita kriminalitas anak. Bukan lagi sekedar kenakalan. Ungkapan sebagian trainer bahwa kenakalan hanyalah soal cara pandang, atau kenakalan adalah kreativitas terpendam, memang menghibur. Tetapi ungkapan ini sangat menjerumuskan. Menganggap biasa tiap kenakalan, memandangnya wajar sehingga tak ada tindakan, akibatnya sangat fatal. Kita menganggap kenakalan itu tidak pernah ada, tapi tiba-tiba saja dikejutkan oleh berita anak SD membunuh. Apakah ini bukan kenakalan? Bukan. Ini sudah kriminalitas. Jauh lebih berat daripada kenakalan.
Ketika ada yang gaduh di kelas, sebagian guru dengan ringan berkata “mereka anak kinestetik”. Tapi tak menjelaskan beda kinestetik dan liar. Teringat kisah seorang kawan di Melbourne. Suatu saat anaknya mengantuk di kelas. Catat: mengantuk. Itu pun sebentar. Tapi guru langsung koordinasi. Mereka ingin mengetahui sebab (ini mempengaruhi penanganan) mengantuknya anak. Karena kehilangan motivasi, terlambat tidur atau lainnya.
Point pentingnya adalah, masalah kecil pun perlu segera ditangani agar tak berkembang lebih parah atau justru jadi masalah kolektif.
Terdapat banyak literatur yang khusus membahas kenakalan anak, mengenali tanda dan sebabnya serta cara menangani. Ini menunjukkan bahwa kenakalan itu ada dan perlu langkah-langkah yang tepat untuk menanganinya. Bukan menafikan.
Jika setiap yang tak sesuai kita anggap biasa, maka ketika anak sudah berperilaku sangat menyimpang pun, kita sudah tak peka lagi. Kita menganggap biasa apa yang sebenarnya tak biasa tanpa mencoba memahami sebabnya dan akhirnya gagap ketika persoalan berkembang serius.
Ini sama dengan belajar anak. Kita perlu bedakan antara kemampuan dan kemauan. Jika anak goblog karena malas, jangan cari pembenaran. Berbakat tapi tak bersemangat akan kalah dibanding tak berbakat tapi gigih. Awalnya sulit, sesudah itu mereka akan menemukan kemudahan.
Sama halnya capek dan lelah. Capek (tired) bersifat fisik, lelah (fatigue) bersifat mental. Capek karena belajar seharian itu wajar.
Cukup beri kesempatan istirahat, dia akan segar kembali. Tapi lelah setelah belajar, full day atau pun half day, itu yang perlu diatasi. Dan itu tidak terkait dengan panjang pendeknya durasi belajar. Di sekolah yang durasi belajarnya pendek pun bisa saja banyak yang kelelahan.
Jika anak kelewat bersemangat sehingga kecapekan belajar, paling-paling cuma badannya yang sakit. Bisa flu, bisa demam. Paling seminggu. Tapi sangat berbeda dengan kelelahan. Jika dibiarkan, anak dapat kehilangan motivasi belajar, apatis, gangguan perilaku atau kenakalan. Anak juga dapat menjadi trouble maker alias biang kerok. Ini jika anak tidak memperoleh stimulasi media. Nah, apalagi kalau media merusak dan memperparah.*